Selasa, 10 September 2019 yang juga bertepatan dengan 10 Muharram 1441 aku mengantar Iza ke Kampung Arab Pare Kediri.
Rencana hanya mengantar sampai Kediri Kota sekitar Alun-alun dan ada mobil jemputan. Tapi ternyata mobil jemputan itu merupakan jasa penjemputan yang tidak terkait dengan lembaga yang akan dituju. Bukan karena masalah mobil jemputannya, tetapi karena setelah dikonfirmasi kediri-pare harus bayar 100rb rupiah. Uang yang bagiku saat ini memang besar karena memang pas tidak ada pemasukan ekstra saat ini.
Tanggal 10 memang bagiku masih tanggal tua dalam penerimaan honor, karena memang tahun ini biasanya terima honor sekitar tanggal 15.
Kondisi memang sangat mepet. Akupun hanya pegang uang 22rb rupiah saat akan berangkat. Namun demikian harus tetap berangkat dengan semangat dan harus menunjukkan raut muka yang tetap penuh semangat di hadapan anakku. Kutepis kekhawatiranku dengan doa. Aku yakin bahwa Allah akan memudahkan perjalananku dan akan menolongku.
Dan dengan pertimbangan keuangan yang memang aku rahasiakan pada Iza dan juga istri, aku tawarkan pada Iza untuk aku antar pakai sepeda motor sampai Pare, dan iapun setuju. Itupun aku putuskan sekitar jam 09.15 pagi setelah aku masuk sebentar ke bpp pogalan. Alhamdulillah tambah bersemangat, meski tetap menyembunyikan sedikit kekhawatiran dengan uang yang 22rb rupiah itu.
Hari itu kami sedang puasa asy-Syura. Maka dengan mengolah fikir, kami juga harus bisa mengatasi masalah buka puasa sebagai musafir. Sebab dalam hitungan waktu jelas bahwa saat buka puasa aku masih di Pare atau bisa jadi dalam perjalanan pulang. Demikian pula untuk Iza kelas menghadapi masalah di daerah baru. Untuk mengatasinya, kami harus bawa bekal dari rumah karena kelas tidak mungkin beli makanan. Ya..., tentu hanya dengan mengolah bahan yang tersedia.
Hampir jam 10 pagi, Iza masih perlu rok hitam, piring plastik, dan jarum bros. Dan itupun harus beli. Maka dengan keyakinan yang penuh, Iza pun memakai uang sangu untuk pengadaannya. Aku pinjam sepeda motor Rina dan kami segera meluncur ke Sinar Busana Sukorejo. Alhamdulillah kami dapatkan rok hitam seharga 83rb rupiah. Selanjutnya mampir intisari untuk beli piring plastik, namun tidak ada dan Iza hanya beli tisu. Selanjutnya piring plastik kami peroleh di toko bu Sitin dengan harga 4500rp. Dan terakhir beli jarum bros di Toko Rahayu pak Kasino seharga 3000rp. Maka dengan demikian uang sangu Iza yang 150rb rupiah itupun tinggal 50rb rupiah.
Aku antar Iza pulang, dan langsung aku kembalikan sepeda motor, karena jam 11.00 wib akan digunakan jemput Abid.
Alhamdulillah jam 10.50 aku sudah sampai1 rumah dan langsung menuju adapur untuk menyiapkan bekal. "Nggae sambel goreng ae yo nduk....., iki enek tempe karo buncis," tanyaku pada Iza. "Sambel goreng ki sing ngangge kecap ngono kae to pak," sahut Iza. "Iyo...." jawabku. "Iyo ae pak.." jawab Iza. "Opo ditambahi mie nduk...." tanyaku lagi pada Iza. "Ndak usah pak.....mie lek adem ora pati enak," jawabnya. "Pak.....lawuhe endog ae," tukas Iza. "Diceplok po didadar nduk....," tanyaku. "Dadar ae pak."
Sambil menyiapkan bahan-bahan, aku dahulukan menanak nasi, dengan perhitungan bahwa selesai masak sayur, nasipun juga sudak siap.
Alhamdulillah semua proses selesai jam 11.35 wib. Tentu kami tunggu sampai dingin untuk dibungkus. "Za....sik enek wektu ngge turu. Turu ae sik sekitar sak jam," "Ya...pak"
Jam 12.40 wib aku sudah bangun, langsung bukus bekal, mandi dan shalat dhuhur. Aku segera "nganjekne" sepedah motor Rina dengan sepeda motor sendiri ke MI Thoriqul Huda kerjo. Sebelum berangkat, aku bangunkan Iza untuk bersiap diri.
Proses penukaran sepeda motor selesai. Maka kami segera berangkat. Waktu itu jam telah menunjukkan pukul 13.40 wib.
Meski masih diliputi was-was dengan hanya sangu 22rb rupiah untuk trenggalek-pare pp, aku memaksa diriku dan menguatkan niat atas pertolongan Alloh. Dengan doa perjalanan, secara khusus aku bermohon pada Alloh agar lancar, selamat, dan cukup diperjalanan.
Dan berangkatlah kami. Dengan modal awal sisa bbm yang ada di sepeda motor yang saya perkirakan dapat kami pakai hampir sampai kediri. Dan ternyata benar, bahwa kami ngisi premium di Ngadiluwih sebelum Koramil atau masjid Al-Ikhlas. Dan atas pertolongan Alloh swt kami isi 20rb rupiah pas penuh sTu tangki. Maka dengan itu kian menguatkanku sepeda motor akan bisa kupakai sampai rumah, dan seandainya kurangpun hanya sedikit.
Jam 15.00 wib, setelah usai isi premium, istirahat dulu sebentar untuk shalat ashar di Masjid Al-Ikhlas, masjid Muhammadiyah dengan halaman luas dan bangunan yang cukup luas pula, yang berada di depan Koramil Ngadiluwih atau sekitar 100m selatan pertigaan Ngadiluwih. Di masjid itulah aku kuatkan lagi permohonanku pada Sang Pemegang Kendali Kehidupan agar perjalanan yang sedang kutempuh mendapat pertolongan-Nya.
Usai shalat Ashar kami meluncur ke Pare. Tanpa berfikir dengan uang yang tinggal 2rb rupiah kami melaju dengan santai. Aku yakin bahwa bensin yang baru saja aku isi cukup, dan bahkan insya Alloh sampai rumah. Alhamdulillah, jam 16.40 sudah sampai tujuan.
Di lokasi tujuan aku ndak lama. Nunggu Iza sebentar dan ternyata registrasi masih belum dilayani. Aku harus meninggalkan lokasi sebelum gelap. Sebab aku sendiri agak kebingungan arah dan kurang hafal jalan di sekitar lokasi.
Setelah bekal untuk Iza aku serahkan, aku langsung pamitan. Dalam benakku, pas maghrib aku sudah berada di jalur utama atau jalan raya.
Ternyata juga tak seperti yang aku bayangkan. Akupun salah ambil jalan ke jurusan Wates Blitar. Itupun baru menyadari setelah berjalan sekitar 2 km. Akhirnya aku harus tanya dan putar balik sehingga buka puasa agak sedikit terlambat. Tapi tidak masalah. Itu hal biasa.
Usai shalat Maghrib dan buka puasa serta istirahat sebentar aku langsung pulang. Saat itu sktr jam 18.15 wib. Dan tanpa ragu aku yakin bahwa bahan bakar bisa sampai rumah. Dan alhamdulillah, atas pertolongan Allah swt perjalanan lancar dan sebelum jam 21.00 wib sudah sampai rumah dengan tetap menyimpan uang 2rb rupiah serta sisa bensin masih lebih banyak dari bekal awal ketika berangkat. Artinya perjalanan pp Gandusari-Pare cukup dengan bensin 20rb rupiah. Alhamdulillah.
Kisah ini memang sederhana tapi paling tidak cukup bermakna buatku sendiri. Dan mungkin juga akan menjadi kenangan buat Iza jika pada saatnya membaca tulisan ini.
Yang jelas, dengan keterbatasan yang ada jika semangat membara dan memohon pertolongan Allah, maka jalan kemudahan akan dibukakan-Nya.
merupakan pengalaman pribadi dan/atau bersama orang lain yang dilihat dari sudut pandang diri sendiri
Rabu, 25 September 2019
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Ke Kampung Arab Pare
Selasa, 10 September 2019 yang juga bertepatan dengan 10 Muharram 1441 aku mengantar Iza ke Kampung Arab Pare Kediri. Rencana hanya mengant...
-
Jum'at Pahing malam Sabtu Pon, 19 Juli 2019 di sekitar rumahku, Gandusari Trenggalek Jatim gerimis. Aku kurang tahu persis mulai jam b...
-
Rabu, 17 Juli 2019 setelah sholat Isya' kembali kucoba membuka kembali Website Diktis Kemenag untuk memastikan pengumuman lulus tidaknya...
-
Selasa, 23 Juli 2019 merupakan hari kedua mendampingi Iza mencari persyaratan ke berangkatan ke Kairo. Hari ini melakukan general check up d...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar