Jum'at Pahing malam Sabtu Pon, 19 Juli 2019 di sekitar rumahku, Gandusari Trenggalek Jatim gerimis. Aku kurang tahu persis mulai jam berapa gerimis turun. Aku mengetahui setelah aku bangun tidur jam 22.00 WIB. Maklum sejak sekitar jam 19.15 WIB mata sudah sangat ngantuk dan setelah menutup gerbang pagar dan pintu rumah akupun tidur kembali. Jam 02.00 WIB atau sudah masuk hari Sabtu, 20 Juli 2019 aku sudah bangun. Setelah doa bangun tidur aku segera beranjak ke kamar mandi untuk buang air kecil, sikat gigi dan kemudian berwudlu. Yang terbesit dalam hatiku saat itu aku hanya ingin Sholat Isya' karena pada awal waku belum aku laksanakan. Tak terbesit dalam hatiku untuk melanjutkan ke Sholat Lail, entah kenaqpa kok tidak seperti biasanya.
Di luar rumah gerimis masih tetap berlangsung. Usai Sholat Isya' alhamdulillah mata dan hati masih kompromi dan karena itu aku gunakan mengoreksi kembali beberapa tulisan yang ada di blog Mbah Muis. Awal mula hanya pada isi tulisan. tapi selanjutnya masuk ke penataan tema sehingga bisa tampil lebih baik. Perbaikan tampilan itupun masih dalam taraf belajar. Dan alhamdulillah Alloh masih memberiku kemampuan untuk belajar meski dalam kadar yang sangat terbatas. Keasyikan perbaikan tema blog malah membuatku semakin bergairah. Sampai-sampai waktu hampir jam 4 atau tepatnya jam 03.57 WIB. Maka segera aku makan sahur karena memang jatuh waktunya aku puasa dari Puasa Dawut yang alhamdulillah sedang aku tegakkan. Usai makan sahur langsung persiapan sholat shubuh berjamaah di Masjid Al-Furqon.
Ada yang membuatku terheran saat usai sholat shubuh. Aku menyeletuk ke beberapa orang jamaah, "Seger.....oleh grimis". Ada yang menyahut, "Tapi kurang akeh lek ngge tandur." Aku sahut, "Kurang akeh yo ditambahi dhewe.". "Tapi gini lo......grimis sewengi ngene iki luwih apik tinimbang ndhisel. Soale suhu neng sekitar tanduran luwih adem, suhu neng ndhuwure lemah yang ademe merata, gek pomo ndhisel akhire ora gampang nguap. jajal lek ra enek grimis, isuk di grujug sore wis garing maneh. Beh....jian kurang syukur" begitu aku teruskan uraianku.
Begitulah....., kebanyakan manusia memang kurang bersyukur dengan apa yang diterima. Semua ingin terpenuhi seperti apa yang diangankan. Kebanyakan manusia menggerutu jika apa yang diangankan belum tercapai atau tidak mencapai seratus persen yang diinginkan. Padahal Alloh lebih tahu terhadap kadar yang harus dipikulkan kepada setiap individu manusia dan juga terhadap seluruh alam ciptaan-Nya.
Kasus gerimis seperti itu tadi jika kita mengerti dari sisi kebutuhan tanaman saja sangat diperlukan. Dengan adanya gerimnis seperti itu (1) iklim mikro, yaitu suhu dan kelembaban di sekitar tanaman akan menjadi stabil dan akan menekan penguapan di siang hari, (2) jika dikaitkan dengan iklim, maka memang telah waktunya Alloh menata pertumbuhan vegetatif bagi tanaman serta tumbuhan pada umumnya sehingga sebentar lagi akan tumbuh tunas baru. Ini hanya dari sisi tanaman serta tumbuhan secara umum. Belum lagi kondisi-kondisi spesifik tiap tanaman, sepeti misalnya mangga yang sedang berbunga. Demikian juga jika kita mampu mengurai kemanfataan untuk makhluk yang lain seperti burung yang saat ini sebagian besar kehausan di siang hari, dan sudah beberapa bulan hanya minur butiran embun di padi hari. Subhanalloh...... Meski masih ada yang menggerutu dengan gerimis kali ini, tetapi kalau kita mampu sedikit memahami maka sebenarnya itu adalah sebagian dari kemaharahmanan Alloh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar