Selasa, 10 September 2019 yang juga bertepatan dengan 10 Muharram 1441 aku mengantar Iza ke Kampung Arab Pare Kediri.
Rencana hanya mengantar sampai Kediri Kota sekitar Alun-alun dan ada mobil jemputan. Tapi ternyata mobil jemputan itu merupakan jasa penjemputan yang tidak terkait dengan lembaga yang akan dituju. Bukan karena masalah mobil jemputannya, tetapi karena setelah dikonfirmasi kediri-pare harus bayar 100rb rupiah. Uang yang bagiku saat ini memang besar karena memang pas tidak ada pemasukan ekstra saat ini.
Tanggal 10 memang bagiku masih tanggal tua dalam penerimaan honor, karena memang tahun ini biasanya terima honor sekitar tanggal 15.
Kondisi memang sangat mepet. Akupun hanya pegang uang 22rb rupiah saat akan berangkat. Namun demikian harus tetap berangkat dengan semangat dan harus menunjukkan raut muka yang tetap penuh semangat di hadapan anakku. Kutepis kekhawatiranku dengan doa. Aku yakin bahwa Allah akan memudahkan perjalananku dan akan menolongku.
Dan dengan pertimbangan keuangan yang memang aku rahasiakan pada Iza dan juga istri, aku tawarkan pada Iza untuk aku antar pakai sepeda motor sampai Pare, dan iapun setuju. Itupun aku putuskan sekitar jam 09.15 pagi setelah aku masuk sebentar ke bpp pogalan. Alhamdulillah tambah bersemangat, meski tetap menyembunyikan sedikit kekhawatiran dengan uang yang 22rb rupiah itu.
Hari itu kami sedang puasa asy-Syura. Maka dengan mengolah fikir, kami juga harus bisa mengatasi masalah buka puasa sebagai musafir. Sebab dalam hitungan waktu jelas bahwa saat buka puasa aku masih di Pare atau bisa jadi dalam perjalanan pulang. Demikian pula untuk Iza kelas menghadapi masalah di daerah baru. Untuk mengatasinya, kami harus bawa bekal dari rumah karena kelas tidak mungkin beli makanan. Ya..., tentu hanya dengan mengolah bahan yang tersedia.
Hampir jam 10 pagi, Iza masih perlu rok hitam, piring plastik, dan jarum bros. Dan itupun harus beli. Maka dengan keyakinan yang penuh, Iza pun memakai uang sangu untuk pengadaannya. Aku pinjam sepeda motor Rina dan kami segera meluncur ke Sinar Busana Sukorejo. Alhamdulillah kami dapatkan rok hitam seharga 83rb rupiah. Selanjutnya mampir intisari untuk beli piring plastik, namun tidak ada dan Iza hanya beli tisu. Selanjutnya piring plastik kami peroleh di toko bu Sitin dengan harga 4500rp. Dan terakhir beli jarum bros di Toko Rahayu pak Kasino seharga 3000rp. Maka dengan demikian uang sangu Iza yang 150rb rupiah itupun tinggal 50rb rupiah.
Aku antar Iza pulang, dan langsung aku kembalikan sepeda motor, karena jam 11.00 wib akan digunakan jemput Abid.
Alhamdulillah jam 10.50 aku sudah sampai1 rumah dan langsung menuju adapur untuk menyiapkan bekal. "Nggae sambel goreng ae yo nduk....., iki enek tempe karo buncis," tanyaku pada Iza. "Sambel goreng ki sing ngangge kecap ngono kae to pak," sahut Iza. "Iyo...." jawabku. "Iyo ae pak.." jawab Iza. "Opo ditambahi mie nduk...." tanyaku lagi pada Iza. "Ndak usah pak.....mie lek adem ora pati enak," jawabnya. "Pak.....lawuhe endog ae," tukas Iza. "Diceplok po didadar nduk....," tanyaku. "Dadar ae pak."
Sambil menyiapkan bahan-bahan, aku dahulukan menanak nasi, dengan perhitungan bahwa selesai masak sayur, nasipun juga sudak siap.
Alhamdulillah semua proses selesai jam 11.35 wib. Tentu kami tunggu sampai dingin untuk dibungkus. "Za....sik enek wektu ngge turu. Turu ae sik sekitar sak jam," "Ya...pak"
Jam 12.40 wib aku sudah bangun, langsung bukus bekal, mandi dan shalat dhuhur. Aku segera "nganjekne" sepedah motor Rina dengan sepeda motor sendiri ke MI Thoriqul Huda kerjo. Sebelum berangkat, aku bangunkan Iza untuk bersiap diri.
Proses penukaran sepeda motor selesai. Maka kami segera berangkat. Waktu itu jam telah menunjukkan pukul 13.40 wib.
Meski masih diliputi was-was dengan hanya sangu 22rb rupiah untuk trenggalek-pare pp, aku memaksa diriku dan menguatkan niat atas pertolongan Alloh. Dengan doa perjalanan, secara khusus aku bermohon pada Alloh agar lancar, selamat, dan cukup diperjalanan.
Dan berangkatlah kami. Dengan modal awal sisa bbm yang ada di sepeda motor yang saya perkirakan dapat kami pakai hampir sampai kediri. Dan ternyata benar, bahwa kami ngisi premium di Ngadiluwih sebelum Koramil atau masjid Al-Ikhlas. Dan atas pertolongan Alloh swt kami isi 20rb rupiah pas penuh sTu tangki. Maka dengan itu kian menguatkanku sepeda motor akan bisa kupakai sampai rumah, dan seandainya kurangpun hanya sedikit.
Jam 15.00 wib, setelah usai isi premium, istirahat dulu sebentar untuk shalat ashar di Masjid Al-Ikhlas, masjid Muhammadiyah dengan halaman luas dan bangunan yang cukup luas pula, yang berada di depan Koramil Ngadiluwih atau sekitar 100m selatan pertigaan Ngadiluwih. Di masjid itulah aku kuatkan lagi permohonanku pada Sang Pemegang Kendali Kehidupan agar perjalanan yang sedang kutempuh mendapat pertolongan-Nya.
Usai shalat Ashar kami meluncur ke Pare. Tanpa berfikir dengan uang yang tinggal 2rb rupiah kami melaju dengan santai. Aku yakin bahwa bensin yang baru saja aku isi cukup, dan bahkan insya Alloh sampai rumah. Alhamdulillah, jam 16.40 sudah sampai tujuan.
Di lokasi tujuan aku ndak lama. Nunggu Iza sebentar dan ternyata registrasi masih belum dilayani. Aku harus meninggalkan lokasi sebelum gelap. Sebab aku sendiri agak kebingungan arah dan kurang hafal jalan di sekitar lokasi.
Setelah bekal untuk Iza aku serahkan, aku langsung pamitan. Dalam benakku, pas maghrib aku sudah berada di jalur utama atau jalan raya.
Ternyata juga tak seperti yang aku bayangkan. Akupun salah ambil jalan ke jurusan Wates Blitar. Itupun baru menyadari setelah berjalan sekitar 2 km. Akhirnya aku harus tanya dan putar balik sehingga buka puasa agak sedikit terlambat. Tapi tidak masalah. Itu hal biasa.
Usai shalat Maghrib dan buka puasa serta istirahat sebentar aku langsung pulang. Saat itu sktr jam 18.15 wib. Dan tanpa ragu aku yakin bahwa bahan bakar bisa sampai rumah. Dan alhamdulillah, atas pertolongan Allah swt perjalanan lancar dan sebelum jam 21.00 wib sudah sampai rumah dengan tetap menyimpan uang 2rb rupiah serta sisa bensin masih lebih banyak dari bekal awal ketika berangkat. Artinya perjalanan pp Gandusari-Pare cukup dengan bensin 20rb rupiah. Alhamdulillah.
Kisah ini memang sederhana tapi paling tidak cukup bermakna buatku sendiri. Dan mungkin juga akan menjadi kenangan buat Iza jika pada saatnya membaca tulisan ini.
Yang jelas, dengan keterbatasan yang ada jika semangat membara dan memohon pertolongan Allah, maka jalan kemudahan akan dibukakan-Nya.
Nuansa Kehidupan
merupakan pengalaman pribadi dan/atau bersama orang lain yang dilihat dari sudut pandang diri sendiri
Rabu, 25 September 2019
Rabu, 31 Juli 2019
GENERAL CHECK UP BUKAN SEKEDAR SEBUAH PERSYARATAN
Selasa, 23 Juli 2019 merupakan hari kedua mendampingi Iza mencari persyaratan ke berangkatan ke Kairo. Hari ini melakukan general check up di RSUD Dr. Sudomo Trengglek.
Secara proses memang hari itu aku terkendala dengan kendaraan. Sepeda motor Pak Wito pas dipakai berobat rutin ke Rumah Sakit, sementara rencana Vixion milik Alim akan dipakai kerja. Sebuah pergulatan batin yang cukup menyedot energiku bagaimana aku harus menata semuanya sehingga sukses melayani Iza.
Alhamdulillah, gagasan muncul sambil perjalanan pulang dari bpp setelah absen pagi. Sampai rumah segera aku antar Iza pakai vixion, karena Alim baru akan berangkat sekitar jam 9 pagi. Karenanya Iza aku dampingi ketika ambil nomor antrian sampai mengarahkan ke dekat layanan antrian.
Kondisi memang memaksa seperti itu. Aku harus memaksa diri untuk membiarkan Iza jalan sendiri mengikuti proses. Dan alhamdulillah tenyata juga bisa berjalan dan malah menjadi pelajaran berharga buatnya. Meskipun dengan agak ragu, tapi harus belajar memecahkan tantangan yang dihadapi. Dengan demikian bukan hanya mengetahui proses yang ia dapatkan, tapi manfaat psikologis dari tantangan yang dilaluinya.
Usai mengantarkan Iza ke dekat loket layanan.
Selanjtnya aku harus segera pulang karena vixion akan segera dipakai. Sampai rumah dengan masih berfikir untuk menjemput iza nantinya, aku cari kesibukan dengan menulis di laptop. Beberapa saat kemudian aku ambil air wudlu dan sholat 2 rakaat yang sengaja aku niatkan untuk mohon pertolongan Alloh agar permasalahan sekecil itupun dapat terpecahkan dengan baik.
Jam 9.30 Alim berangkat ke Tulungagung, namun tidak jadi bawa sepeda motor sendiri. Alim berangkat bersama Adib dengan memakai sepeda motor Adib. Alhamdulillah akhirnya sepeda bisa aku gunakan menyusul Iza ke rumah sakit.
Sesampai di rumah sakit, ternyata proses GCU hampir selesai. Saat itu tinggal ke Poli Mata. Alhamdulillah. Akhirnya Iza bisa melakukan secara mandiri. Dan hal itu tentu menjadi pengalaman batin yang cukup berharga.
Secara proses memang hari itu aku terkendala dengan kendaraan. Sepeda motor Pak Wito pas dipakai berobat rutin ke Rumah Sakit, sementara rencana Vixion milik Alim akan dipakai kerja. Sebuah pergulatan batin yang cukup menyedot energiku bagaimana aku harus menata semuanya sehingga sukses melayani Iza.
Alhamdulillah, gagasan muncul sambil perjalanan pulang dari bpp setelah absen pagi. Sampai rumah segera aku antar Iza pakai vixion, karena Alim baru akan berangkat sekitar jam 9 pagi. Karenanya Iza aku dampingi ketika ambil nomor antrian sampai mengarahkan ke dekat layanan antrian.
Kondisi memang memaksa seperti itu. Aku harus memaksa diri untuk membiarkan Iza jalan sendiri mengikuti proses. Dan alhamdulillah tenyata juga bisa berjalan dan malah menjadi pelajaran berharga buatnya. Meskipun dengan agak ragu, tapi harus belajar memecahkan tantangan yang dihadapi. Dengan demikian bukan hanya mengetahui proses yang ia dapatkan, tapi manfaat psikologis dari tantangan yang dilaluinya.
Usai mengantarkan Iza ke dekat loket layanan.
Selanjtnya aku harus segera pulang karena vixion akan segera dipakai. Sampai rumah dengan masih berfikir untuk menjemput iza nantinya, aku cari kesibukan dengan menulis di laptop. Beberapa saat kemudian aku ambil air wudlu dan sholat 2 rakaat yang sengaja aku niatkan untuk mohon pertolongan Alloh agar permasalahan sekecil itupun dapat terpecahkan dengan baik.
Jam 9.30 Alim berangkat ke Tulungagung, namun tidak jadi bawa sepeda motor sendiri. Alim berangkat bersama Adib dengan memakai sepeda motor Adib. Alhamdulillah akhirnya sepeda bisa aku gunakan menyusul Iza ke rumah sakit.
Sesampai di rumah sakit, ternyata proses GCU hampir selesai. Saat itu tinggal ke Poli Mata. Alhamdulillah. Akhirnya Iza bisa melakukan secara mandiri. Dan hal itu tentu menjadi pengalaman batin yang cukup berharga.
Sambil menunggu hasil, terutama dari radiologi dan laboratorium, aku ajak Iza untuk cari makanan agar tenaga kembali pulih setelah sejak malam puasa untuk persiapan GCU. Tidak begitu cari yang istimewa, yang penting bisa mengganjal perut. Ia hanya minta bubur ayam yang ada di depan rumah sakit. Ya....mungkin punya perasaan kalau saat itu memang aku hanya memiliki uang saku yang sangat mepet.
General Check Up sudah selesai. Alhamdulillah kamipun bisa tambah lega karena langkah untuk.mencari persyaratan yang paling rumit telah kami selesaikan.
Sore hari, setelah beristirahat aku lihat dan pelajari hasil GCU. Lebih khusus adalah hasil foto rongen. Ya...., itu aku dahulukan karena sejak bertahun tahun Iza terkena gangguan pada paru-paru. Dan alhamdulillah hasil foto rongen menunjukkan bahwa paru-paru Iza telah normal. "Ya Alloh..... Engkau lah yang telah memberi obat. Kami hanya mampu berusaha."
General Check Up, karena itu bukan hanya sebuah persyaratan untuk berangkat ke Kairo. Hasil GCU semakin meyakinkanku bahwa Iza insya Alloh akan sehat di sana. Namun aku juga tidak boleh menyombongkan diri. Aku harus terus menerus secara istiqomah berdoa yang salah satunya agar Alloh melimpahkan kesehatan pada Iza. Aku sadar bahwa sehat merupakan salah satu faktor penting agar Iza dapat beribadah dengan lebih baik, kuliah lebih baik, dan berkarya untuk masa depannya juga lebih fokus.
Selasa, 23 Juli 2019
Pengalaman Pertama antar Urus Paspor
Pagi ini, Senin 22 Juli 2019 aku mendampingi Iza mengurus paspor. Dan selama perjalanan hidupku yang telah lebih 50 th, ya baru kali ini ngerti ngurus paspor. Bahkan akupun juga belum tahu sebenarnya paspor itu seperti apa.
Ya.....begitulah. Ternyata setiap sesuatu harus dialami dahulu agar tahu dan mengerti. Jika hanya sekedar mendengar, ternyata belum menjamin seseorang mengerti secara persis bagaimana sesuatu itu.
Sebenarnya tidak membayangkan sebuah kesulitan. Tapi yang penting adalah kemampuan membaca situasi di lokasi. Keberanian dan tidak ragu itulah kunci yang perlu saya pegang.
Awal masuk halaman kantor imigrasi Srengat Blitar, sudah ada sedikit kekurangan. Kami tidak mengerti klo pengantar akan diberi tanda pengenal. Jadi kami langsung jalan aja masuk lokasi. Tapi segera dipanggil petugas untuk menerima tanda pengenal.
Setelah parkir kendaraan, aku dan Iza menghampiri ruang pelayanan. Tidak perlu banyak tanya, hanya baca saja papan petunjuk yang terpampang di dekat lokasi parkir.
Mendapingi Iza memang perlu membantu menumbuhkan mental keberanian. Aku pahan kalau anakku sudah memegang lenganku ketika memasuki area atau sesuatu yang baru, dihatinya terbesit keraguan dan bahkan kadang ketakutan. Tapi aku juga harus secepatnya meredam. Dan alhamdulillah dengan langsung kuajak ke loket pelayanan ia langsung menunjukkan keberaniannya.
Aku harus mendampingi untuk menumbuhkan keberaniannya, membimbing pengisian form, dan seterusnya.
Ada lagi sedikit kekurangan. KTP, KK, Akte memang harus difoto copy pada kertas A4. Padalah yang telah disiapkan adalah di kertas F4. Karena itu harus ke foto copy. Tidak jauh, hanya di sebelah tempat parkir, di koperasi karyawan. Tapi bukan soal jauh dekatnya, tapi yang menjadikan pelajaran adalah (1) persyaratan yang harus disiapkan sebelumnya perlu sesuai petunjuk, yaitu kertas A4, (2) bagi Iza sendiri juga mengerti bahwa petugas foto copy lebih tahu apa dan berapa jumlah foto copy yang diperlukan.
Proses pengisian formulir selesai. Kami kembali ke petugas pelayanan. Kemudian Iza masuk ke ruang ruang pengecekan, sedang aku sendiri hanya boleh di ruang tunggu.
Ya.....begitulah. Ternyata setiap sesuatu harus dialami dahulu agar tahu dan mengerti. Jika hanya sekedar mendengar, ternyata belum menjamin seseorang mengerti secara persis bagaimana sesuatu itu.
Sebenarnya tidak membayangkan sebuah kesulitan. Tapi yang penting adalah kemampuan membaca situasi di lokasi. Keberanian dan tidak ragu itulah kunci yang perlu saya pegang.
Awal masuk halaman kantor imigrasi Srengat Blitar, sudah ada sedikit kekurangan. Kami tidak mengerti klo pengantar akan diberi tanda pengenal. Jadi kami langsung jalan aja masuk lokasi. Tapi segera dipanggil petugas untuk menerima tanda pengenal.
Setelah parkir kendaraan, aku dan Iza menghampiri ruang pelayanan. Tidak perlu banyak tanya, hanya baca saja papan petunjuk yang terpampang di dekat lokasi parkir.
Mendapingi Iza memang perlu membantu menumbuhkan mental keberanian. Aku pahan kalau anakku sudah memegang lenganku ketika memasuki area atau sesuatu yang baru, dihatinya terbesit keraguan dan bahkan kadang ketakutan. Tapi aku juga harus secepatnya meredam. Dan alhamdulillah dengan langsung kuajak ke loket pelayanan ia langsung menunjukkan keberaniannya.
Aku harus mendampingi untuk menumbuhkan keberaniannya, membimbing pengisian form, dan seterusnya.
Ada lagi sedikit kekurangan. KTP, KK, Akte memang harus difoto copy pada kertas A4. Padalah yang telah disiapkan adalah di kertas F4. Karena itu harus ke foto copy. Tidak jauh, hanya di sebelah tempat parkir, di koperasi karyawan. Tapi bukan soal jauh dekatnya, tapi yang menjadikan pelajaran adalah (1) persyaratan yang harus disiapkan sebelumnya perlu sesuai petunjuk, yaitu kertas A4, (2) bagi Iza sendiri juga mengerti bahwa petugas foto copy lebih tahu apa dan berapa jumlah foto copy yang diperlukan.
Proses pengisian formulir selesai. Kami kembali ke petugas pelayanan. Kemudian Iza masuk ke ruang ruang pengecekan, sedang aku sendiri hanya boleh di ruang tunggu.
Satu jam lebih iza si ruang tunggu. Rasanya stes menyelimuti dirinya karena lamanya ndak dipanggil. Aku sendiri juga tidak tahu prosedur di dalam.
Komunikasi via wa menggambarkan seperti itu. Dan aku sendiri mulai sedikit tersulut untuk menemui dan protes. Tapi tidak bisa karena terhalang aturan. Secara lengkap komunikasi seperti ini;
Petugas kedua yang ada diluar aku temui setelah petugas pertama dua kali aku mintai penjelasan. Petugas inu lebih proaktif, sehingga ngecek ke dalam. Dari situlah jelas masalahnya.
Sesuai dengan keterangan iza, ia belum dipanggil. Tapi menurut petugas yang saya temuai tadi Iza sudah dipanggil tapi tidak mendengar. Aku tidak tahu persis, tapi yang jelas saat konfirmasi itu tadi urutan pemanggilannya sudah nomor 40 sedang Iza ada di nomor 10. Tapi biarlah, yang penting akhirnya diusulkan.
Permasalahan riil seperti ini merupakan pengalaman yang harus menjadi pelajaran, terutama untuk Iza. Paling tidak, (1) jika benar sudah terpanggil tapi kurang memperhatikan, perlu kiranya belajar fokus saat menghadapi model antrian seperti itu, (2) mengupayakan ketenangan hati sehingga tidak mengganggu konsentrasi, (3) karena kenyataannya model pelayanan tiap lembaga ada perbedaan, maka ketika pertama kali memasuki layanan di sebuah lembaga maka perlu bertanya pada petugas, orang di dekatnya dan memperhatikan orang lain yang lebih dahulu. Ini adalah bagian dari life skill yang perlu diasah terus.
Akhirnya proses telah selesai. Iza keluar ruangan dan menemuiku di ruang tunggu. "Cukup nduk...." terburuk. "Uwis pak, karim bayar" sahutnya. "Wis foto" tanyaku lebih lanjut. "Uwis...., kari bayar neng kantor pos," jawab Iza. "Lha neng kono kuwi mbayare. Pos e neng kono kuwi," balasku. Dan langsung Iza menuju meja bayar yang hanya beberapa langkah di depan kami.
Jam 11.00 WIB semua proses telah terselesaikan. Sebelum meninggalkan kantor Imigrasi Klas II Srengat Blitar, disamping mendengar keterangan Iza bahwa paspor akan jadi dalam waktu 3 (tiga) hari, aku juga menyakinkan diri ke petugas pendaftaran. Dan benar bahwa paspor akan jadi dalam waktu 3 hari dan menurut penjelasan petugas nanti akan dihubungi via sms.
Kamipun akhirnya pulang setelah Iza dan Fery (yang nyopir mobil) memsan juice di dekat parkir kendaraan. Kondisi Iza memang kelihatan sangat lelah karena itu hampir sepanjang perjalanan ia gunakan untuk tidur. Kelelahan yang ia alami aku prediksi karena kondisi stres ketika proses pelayanan yang kurang memenuhi harapan. Kelelahan itu juga masih terbawa sampai di rumah, sehingga langsung tidur hingga sore hari.
Dan benar prediksiku, setelah ba'da maghrib aku konfirmasi sambil memijit badannya memang ia amat stres ketika namanya tidak terpanggil dalam proses pelayanan paspor. Bahkan ia sampaikan bahwa di dalam ruangan pelayanan ia sangat pusing dan seperti hampir muntah.
Menurutku hal itu adadalah sebuah kewajaran, dan bahkan akan menjadi proses pendewasaan diri. Sebab bila pada masa muda seseorang tidak belajar mengatatai masalah, maka pada saat-saat yang akan datang malah mengalkami kesulitan. Masalah yang dihadapi adalah proses pendewasaan diri. Dan saya yakin bahwa Alloh tidak memberikan beban kepada seseorang di luar batas kemampuannya. Artinya bila seseorang diberi beban oleh Alloh maka ia akan bisa menyelesaikan atau memikulnya. Rasa berat atau ringan tergantung dari bagaimana seseorang mensikapi. Dan mensikapi segala sesuatu itupun juga melalui proses belajar. Insya Alloh dengan belajar menata mental saat mengahapi persoalan saat mengurus paspor seperti itu akan menjadi bekal positif bagi Iza di masa depan.
Jumat, 19 Juli 2019
Hanya Menggerutu
Jum'at Pahing malam Sabtu Pon, 19 Juli 2019 di sekitar rumahku, Gandusari Trenggalek Jatim gerimis. Aku kurang tahu persis mulai jam berapa gerimis turun. Aku mengetahui setelah aku bangun tidur jam 22.00 WIB. Maklum sejak sekitar jam 19.15 WIB mata sudah sangat ngantuk dan setelah menutup gerbang pagar dan pintu rumah akupun tidur kembali. Jam 02.00 WIB atau sudah masuk hari Sabtu, 20 Juli 2019 aku sudah bangun. Setelah doa bangun tidur aku segera beranjak ke kamar mandi untuk buang air kecil, sikat gigi dan kemudian berwudlu. Yang terbesit dalam hatiku saat itu aku hanya ingin Sholat Isya' karena pada awal waku belum aku laksanakan. Tak terbesit dalam hatiku untuk melanjutkan ke Sholat Lail, entah kenaqpa kok tidak seperti biasanya.
Di luar rumah gerimis masih tetap berlangsung. Usai Sholat Isya' alhamdulillah mata dan hati masih kompromi dan karena itu aku gunakan mengoreksi kembali beberapa tulisan yang ada di blog Mbah Muis. Awal mula hanya pada isi tulisan. tapi selanjutnya masuk ke penataan tema sehingga bisa tampil lebih baik. Perbaikan tampilan itupun masih dalam taraf belajar. Dan alhamdulillah Alloh masih memberiku kemampuan untuk belajar meski dalam kadar yang sangat terbatas. Keasyikan perbaikan tema blog malah membuatku semakin bergairah. Sampai-sampai waktu hampir jam 4 atau tepatnya jam 03.57 WIB. Maka segera aku makan sahur karena memang jatuh waktunya aku puasa dari Puasa Dawut yang alhamdulillah sedang aku tegakkan. Usai makan sahur langsung persiapan sholat shubuh berjamaah di Masjid Al-Furqon.
Ada yang membuatku terheran saat usai sholat shubuh. Aku menyeletuk ke beberapa orang jamaah, "Seger.....oleh grimis". Ada yang menyahut, "Tapi kurang akeh lek ngge tandur." Aku sahut, "Kurang akeh yo ditambahi dhewe.". "Tapi gini lo......grimis sewengi ngene iki luwih apik tinimbang ndhisel. Soale suhu neng sekitar tanduran luwih adem, suhu neng ndhuwure lemah yang ademe merata, gek pomo ndhisel akhire ora gampang nguap. jajal lek ra enek grimis, isuk di grujug sore wis garing maneh. Beh....jian kurang syukur" begitu aku teruskan uraianku.
Begitulah....., kebanyakan manusia memang kurang bersyukur dengan apa yang diterima. Semua ingin terpenuhi seperti apa yang diangankan. Kebanyakan manusia menggerutu jika apa yang diangankan belum tercapai atau tidak mencapai seratus persen yang diinginkan. Padahal Alloh lebih tahu terhadap kadar yang harus dipikulkan kepada setiap individu manusia dan juga terhadap seluruh alam ciptaan-Nya.
Kasus gerimis seperti itu tadi jika kita mengerti dari sisi kebutuhan tanaman saja sangat diperlukan. Dengan adanya gerimnis seperti itu (1) iklim mikro, yaitu suhu dan kelembaban di sekitar tanaman akan menjadi stabil dan akan menekan penguapan di siang hari, (2) jika dikaitkan dengan iklim, maka memang telah waktunya Alloh menata pertumbuhan vegetatif bagi tanaman serta tumbuhan pada umumnya sehingga sebentar lagi akan tumbuh tunas baru. Ini hanya dari sisi tanaman serta tumbuhan secara umum. Belum lagi kondisi-kondisi spesifik tiap tanaman, sepeti misalnya mangga yang sedang berbunga. Demikian juga jika kita mampu mengurai kemanfataan untuk makhluk yang lain seperti burung yang saat ini sebagian besar kehausan di siang hari, dan sudah beberapa bulan hanya minur butiran embun di padi hari. Subhanalloh...... Meski masih ada yang menggerutu dengan gerimis kali ini, tetapi kalau kita mampu sedikit memahami maka sebenarnya itu adalah sebagian dari kemaharahmanan Alloh.
Kamis, 18 Juli 2019
Akhirnya Kegundahgulanaan Terjawab
Rabu, 17 Juli 2019 setelah sholat Isya' kembali kucoba membuka kembali Website Diktis Kemenag untuk memastikan pengumuman lulus tidaknya Iza setelah mengikuti seleksi tahap 2 di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir.
Pengumuman telah muncul setelah sekitar satu setengah jam sebelumnya atau jelang sholat maghrib juga telah saya usahakan lihat website tersebut.
Terjawab sudah kegundahgulanaan yang beberapa hari ini menyelimuti hatiku, dan yang jelas juga menyelimuti Iza sendiri.
Alhamdulillah...... Iza bisa diterima dan termasuk salah satu dari 750 calon mahasiswa yang lulus penuh (bukan cadangan, sebab ada juga yang lulus cadangan sebanyak 250 calon mahasiswa).
Setelah aku screnshort segera kusampaikan memalu GWA Keluargaku, karena saat kubuka pengumuman itu aku di rumah sendirian. Iza bersama Alim, Indah, dan Hafidz sedang di Batu, istriku di eumah embok karena baru saja ada acara setahun an Rara putrinya Rina, Aziz di Yogya dan Amin di Kepanjen. Disamping itu iza juga aku japri, dan ternyata juga belum lihat info.
Dengan situasi seperti itu tentu sambutan semua anggota keluarga hanya dengan sambutan maya.
Alhamdulillah...., kegundahgulanaanku berubah jadi gumpalan syukur kegembiraan. Dan hampir saja aku menyusul istri di rumah mertua sambil memberitahu keluarga yang kumpul di sana. Tapi aku diurungkan, daripada dianggap pamer. Akupun hampir ke.rumah ibuku untuk memberitahukan, karena hampir tiap hari menanyakan.Ya....lagi lagi juga diurungkan, kutunda dulu.
Dan sebenarnya secara jujur harus kuakui sejak 4 hari sebelumnya kegundhgulanaan menyelimuti hatiku dengan cukup dalam sehingga sejak hari Ahad yang biasanya aku bangun antara jam 03.00 WIB samapi jam 03.30 WIB, aku sudah bangun sejak antara jam 01.30 sampai 02.00 WIB. Ya.....mungkin itu semua efek dari kegundahgulanaan itu, meskipun malah bisa dimanfaatkan waktu sholat tahajud dengan lebih leluasa, karena Shubuh di Trenggalek saat ini sudah mendekati jam 04.30 WIB.
Pengumuman telah muncul setelah sekitar satu setengah jam sebelumnya atau jelang sholat maghrib juga telah saya usahakan lihat website tersebut.
Terjawab sudah kegundahgulanaan yang beberapa hari ini menyelimuti hatiku, dan yang jelas juga menyelimuti Iza sendiri.
Alhamdulillah...... Iza bisa diterima dan termasuk salah satu dari 750 calon mahasiswa yang lulus penuh (bukan cadangan, sebab ada juga yang lulus cadangan sebanyak 250 calon mahasiswa).
Dengan situasi seperti itu tentu sambutan semua anggota keluarga hanya dengan sambutan maya.
Alhamdulillah...., kegundahgulanaanku berubah jadi gumpalan syukur kegembiraan. Dan hampir saja aku menyusul istri di rumah mertua sambil memberitahu keluarga yang kumpul di sana. Tapi aku diurungkan, daripada dianggap pamer. Akupun hampir ke.rumah ibuku untuk memberitahukan, karena hampir tiap hari menanyakan.Ya....lagi lagi juga diurungkan, kutunda dulu.
Dan sebenarnya secara jujur harus kuakui sejak 4 hari sebelumnya kegundhgulanaan menyelimuti hatiku dengan cukup dalam sehingga sejak hari Ahad yang biasanya aku bangun antara jam 03.00 WIB samapi jam 03.30 WIB, aku sudah bangun sejak antara jam 01.30 sampai 02.00 WIB. Ya.....mungkin itu semua efek dari kegundahgulanaan itu, meskipun malah bisa dimanfaatkan waktu sholat tahajud dengan lebih leluasa, karena Shubuh di Trenggalek saat ini sudah mendekati jam 04.30 WIB.
Langganan:
Komentar (Atom)
Ke Kampung Arab Pare
Selasa, 10 September 2019 yang juga bertepatan dengan 10 Muharram 1441 aku mengantar Iza ke Kampung Arab Pare Kediri. Rencana hanya mengant...
-
Jum'at Pahing malam Sabtu Pon, 19 Juli 2019 di sekitar rumahku, Gandusari Trenggalek Jatim gerimis. Aku kurang tahu persis mulai jam b...
-
Rabu, 17 Juli 2019 setelah sholat Isya' kembali kucoba membuka kembali Website Diktis Kemenag untuk memastikan pengumuman lulus tidaknya...
-
Selasa, 23 Juli 2019 merupakan hari kedua mendampingi Iza mencari persyaratan ke berangkatan ke Kairo. Hari ini melakukan general check up d...










