Selasa, 23 Juli 2019

Pengalaman Pertama antar Urus Paspor

Pagi ini, Senin 22 Juli 2019 aku mendampingi Iza mengurus paspor. Dan selama perjalanan hidupku yang telah lebih 50 th, ya baru kali ini ngerti ngurus paspor. Bahkan akupun juga belum tahu sebenarnya paspor itu seperti apa.
Ya.....begitulah. Ternyata setiap sesuatu harus dialami dahulu agar tahu dan mengerti. Jika hanya sekedar mendengar, ternyata belum menjamin seseorang mengerti secara persis bagaimana sesuatu itu.
Sebenarnya tidak membayangkan sebuah kesulitan. Tapi yang penting adalah kemampuan membaca situasi di lokasi. Keberanian dan tidak ragu itulah kunci yang perlu saya pegang.
Awal masuk halaman kantor imigrasi Srengat Blitar, sudah ada sedikit kekurangan. Kami tidak mengerti klo pengantar akan diberi tanda pengenal. Jadi kami langsung jalan aja masuk lokasi. Tapi segera dipanggil petugas untuk menerima tanda pengenal.
Setelah parkir kendaraan, aku dan Iza menghampiri ruang pelayanan. Tidak perlu banyak tanya, hanya baca saja papan petunjuk yang terpampang di dekat lokasi parkir.
Mendapingi Iza memang perlu membantu menumbuhkan mental keberanian. Aku pahan kalau anakku sudah memegang lenganku ketika memasuki area atau sesuatu yang baru, dihatinya terbesit keraguan dan bahkan kadang ketakutan. Tapi aku juga harus secepatnya meredam. Dan alhamdulillah dengan langsung kuajak ke loket pelayanan ia langsung menunjukkan keberaniannya.
Aku harus mendampingi untuk menumbuhkan keberaniannya, membimbing pengisian form, dan seterusnya.
Ada lagi sedikit kekurangan. KTP, KK, Akte memang harus difoto copy pada kertas A4. Padalah yang telah disiapkan adalah di kertas F4. Karena itu harus ke foto copy. Tidak jauh, hanya di sebelah tempat parkir, di koperasi karyawan. Tapi bukan soal jauh dekatnya, tapi yang menjadikan pelajaran adalah (1) persyaratan yang harus disiapkan sebelumnya perlu sesuai petunjuk, yaitu kertas A4, (2) bagi Iza sendiri juga mengerti bahwa petugas foto copy lebih tahu apa dan berapa jumlah foto copy yang diperlukan.
Proses pengisian formulir selesai. Kami kembali ke petugas pelayanan. Kemudian Iza masuk ke ruang ruang pengecekan, sedang aku sendiri hanya boleh di ruang tunggu.


Satu jam lebih iza si ruang tunggu. Rasanya stes menyelimuti dirinya karena lamanya ndak dipanggil. Aku sendiri juga tidak tahu prosedur di dalam. 
Komunikasi via wa menggambarkan seperti itu. Dan aku sendiri mulai sedikit tersulut untuk menemui dan protes. Tapi tidak bisa karena terhalang aturan. Secara lengkap komunikasi seperti ini;

 




Petugas kedua yang ada diluar aku temui setelah petugas pertama dua kali aku mintai penjelasan. Petugas inu lebih proaktif, sehingga ngecek ke dalam. Dari situlah jelas masalahnya.
Sesuai dengan keterangan iza, ia belum dipanggil. Tapi menurut petugas yang saya temuai tadi Iza sudah dipanggil tapi tidak mendengar. Aku tidak tahu persis, tapi yang jelas saat konfirmasi itu tadi urutan pemanggilannya sudah nomor 40 sedang Iza ada di nomor 10. Tapi biarlah, yang penting akhirnya diusulkan.
Permasalahan riil seperti ini merupakan pengalaman yang harus menjadi pelajaran, terutama untuk Iza. Paling tidak, (1) jika benar sudah terpanggil tapi kurang memperhatikan, perlu kiranya belajar fokus saat menghadapi model antrian seperti itu, (2) mengupayakan ketenangan hati sehingga tidak mengganggu konsentrasi, (3) karena kenyataannya model pelayanan tiap lembaga ada perbedaan, maka ketika pertama kali memasuki layanan di sebuah lembaga maka perlu bertanya pada petugas, orang di dekatnya dan memperhatikan orang lain yang lebih dahulu. Ini adalah bagian dari life skill yang perlu diasah terus.
Akhirnya proses telah selesai. Iza keluar ruangan dan menemuiku di ruang tunggu. "Cukup nduk...." terburuk. "Uwis pak, karim bayar" sahutnya. "Wis foto" tanyaku lebih lanjut. "Uwis...., kari bayar neng kantor pos," jawab Iza. "Lha neng kono kuwi mbayare. Pos e neng kono kuwi," balasku. Dan langsung Iza menuju meja bayar yang hanya beberapa langkah di depan kami.

Jam 11.00 WIB semua proses telah terselesaikan.  Sebelum meninggalkan kantor Imigrasi Klas II Srengat Blitar, disamping mendengar keterangan Iza bahwa paspor akan jadi dalam waktu 3 (tiga) hari, aku juga menyakinkan diri ke petugas pendaftaran. Dan benar bahwa paspor akan jadi dalam waktu 3 hari dan menurut penjelasan petugas nanti akan dihubungi via sms. 
Kamipun akhirnya pulang  setelah Iza dan Fery (yang nyopir mobil) memsan juice di dekat parkir kendaraan. Kondisi Iza memang kelihatan sangat lelah karena itu hampir sepanjang perjalanan ia gunakan untuk tidur. Kelelahan yang ia alami aku prediksi karena kondisi stres ketika proses pelayanan yang kurang memenuhi harapan. Kelelahan itu juga masih terbawa sampai di rumah, sehingga langsung tidur hingga sore hari. 
Dan benar prediksiku, setelah ba'da maghrib aku konfirmasi sambil memijit badannya memang ia amat stres ketika namanya tidak terpanggil dalam proses pelayanan paspor. Bahkan ia sampaikan bahwa di dalam ruangan pelayanan ia sangat pusing dan seperti hampir muntah.
Menurutku hal itu adadalah sebuah kewajaran, dan bahkan akan menjadi proses pendewasaan diri. Sebab bila pada masa muda seseorang tidak belajar mengatatai masalah, maka pada saat-saat yang akan datang malah mengalkami kesulitan. Masalah yang dihadapi adalah proses pendewasaan diri. Dan saya yakin bahwa  Alloh tidak memberikan beban kepada seseorang di luar batas kemampuannya. Artinya bila seseorang diberi beban oleh Alloh maka ia akan bisa menyelesaikan atau memikulnya. Rasa berat atau ringan tergantung dari bagaimana seseorang mensikapi. Dan mensikapi segala sesuatu itupun juga melalui proses belajar. Insya Alloh dengan belajar menata mental saat mengahapi persoalan saat mengurus paspor seperti itu akan menjadi bekal positif bagi Iza di masa depan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ke Kampung Arab Pare

Selasa, 10 September 2019 yang juga bertepatan dengan 10 Muharram 1441 aku mengantar Iza ke Kampung Arab Pare Kediri. Rencana hanya mengant...